Monday, June 05, 2006

literary decision

Suatu waktu, saya tertarik dengan kata literary decision. Penasaran dengan makna kata tersebut, dan dari kamus, ketemu arti yang kira-kira sebagai berikut: "keputusan yang diambil (oleh penulis/pengarang/pencerita) demi memenuhi kebutuhan bersifat literatur, atau penulisan semata, bukan untuk tujuan lain, seperti misalnya menampilkan kebenaran atau fakta apa adanya".

Saya kembali teringat dengan istilah ini, saat membaca tulisan emha tentang saridin. Sebuah kisah yang menarik, yang mengingatkan kita kepada makna syahadat. Di sini, fakta tentang apakah peristiwa itu memang terjadi atau tidak bukanlah hal yang penting, bukanlah esensi dari tulisan tersebut. Bisa jadi ini hanya kisah rekaan, semata-mata untuk menceritakan pesan inti yang dimaksud, yaitu makna syahadat itu sendiri.

Setiap orang menulis dengan satu atau lebih tujuan tertentu. Dalam memaparkan pikirannya, sang penulis terkadang tidak terpaku pada penulisan fakta per se, namun lebih mementingkan makna yang tersampaikan, sehingga ia tidak ragu menggunakan kiasan, kisah-kisah rekaan untuk menjelaskan gagasannya. Hal ini, menurut saya, umum terjadi di mana-mana, terutama dalam karya seni atau pun tulisan yang bersifat persuasif, yang bertujuan semata-mata untuk mempengaruhi pola pikir pembaca. Tergolong dalam kelompok ini misalnya, novel yang dibuat dalam konteks sejarah, seperti tulisan-tulisan pramoedya ananta toer, atau karya sastra jawa kuno yang sering dianggap sebagai sumber sejarah oleh para pakar.

Sayangnya, meski sering dianggap sebagai sumber sejarah, dari karya sastra seperti ini kita tidak pernah bisa mana yang merupakan fakta, dan mana yang hanya cerita rekaan. Tentu saja ini wajar, karena karya tersebut memang tidak pernah dari awalnya diniatkan untuk menjadi sumber fakta, namun sebagai sumber inspirasi, sebagai alat mempengaruhi masyarakat pembaca.