julurkan lidah, anda dan bapak
Di satu milis, ada seorang kawan yang menggunakan istilah "julurkan lidahmu" yang ditujukan ke salah satu menteri yang menjabat sekarang. Ada yang protes, mempertanyakan maksud frasa tersebut, karena biasanya yang menjulurkan lidah adalah anjing. Ternyata, maksud arti "julurkan lidah" adalah mengkomunikasikan kepada umum supaya orang lain faham apa saja yang telah dikerjakan dalam 100 hari pertamanya menjadi menteri. Niat baik, namun pilihan kata dapat membuat orang lain tersinggung.
Di milis lain, terjadi perdebatan tentang penggunaan kata "anda" dan "bapak" untuk menyapa presiden dalam satu acara di TV. Satu pihak menganggap, penggunaan kata "anda" kepada presiden tidak sopan. Pihak lain menganggap, penggunaan kata "bapak" adalah warisan budaya feodalisme.
Debat di milis yang terakhir (yaitu milis pantau-komunitas@yahoogroups.com) kemudian menjadi menarik, karena dikaitkan dengan politik dan budaya. Salah satu anggota milis (Nanang Supriatna) menyebutkan, bahwa di jawa ada istilah yang disebut tumpas kelor, yaitu menumpas satu kelompok hingga ke akar-akarnya, termasuk ke bahasa yang digunakannya. Sebagai contoh ditunjukkan bahwa bahasa jawa dan sunda pada awalnya tidak mengenal tingkatan, baru pada masa kerajaan mataram dikenalkan bahasa yang berbeda untuk kalangan keraton dan kalangan rakyat biasa.
Debat tersebut jugalah membuat saya mengetahui asal muasal kata anda. Farid gaban, dengan mengutip buku "Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi" karya Rosihan Anwar, 1980, menyebutkan bahwa penggunaan kata anda untuk kata ganti kedua awalnya diciptakan oleh seorang kapten AURI bernama Sabirin. Kata tersebut berasal dari bahasa Kawi 'ra', kemudian menjadi 'da', dan bermakna 'yang mulia'. Kata 'anda' diperkenalkan ke publik pada tanggal 28 Februari 1957 oleh harian Pedoman. Sutan Takdir Alisyahbana kemudian mendukung penggunaan kata tersebut dalam tulisan di Pedoman Minggu pada tanggal 14 April 1957. Di tulisan tersebut, ia menyatakan bahwa makna hakiki kata anda ialah `pendemokrasian dalam kata ganti' dan mempopulerkan kata anda berarti juga membantu tumbuhnya masyarakat Indonesia yang demokratis.
Namun, apakah ini berarti memakai kata 'bapak' merupakan budaya feodalisme? Ketika berkenalan dengan kawan baru, saya sering mengingatkan jika saya dipanggil dengan sebutan 'pak'. Maklum, masih kecil kok sudah dipanggil 'pak' :). Ada lagi kawan yang mendefinisikan, seseorang yang sudah menikah, layak disebut 'pak', sementara yang tidak, cukup dengan nama saja. Di sini, penggunaan kata bapak dikaitkan dengan usia dan status menikah seseorang. (bagi beberapa orang, definisi ini tentu dianggap racist :)).
Apa pun alasannya, menurut saya, perlu dibedakan antara pengunaannya karena kesepakatan dan rasa bahasa dalam satu komunitas dengan pemaksaan penggunaan kata 'bapak' karena budaya feodalisme. Jika seseorang terpaksa menggunakan kata 'bapak' dalam menyapa seseorang yang mempunyai posisi lebih tinggi, inilah budaya feodal yang harus ditumpas.
Di milis lain, terjadi perdebatan tentang penggunaan kata "anda" dan "bapak" untuk menyapa presiden dalam satu acara di TV. Satu pihak menganggap, penggunaan kata "anda" kepada presiden tidak sopan. Pihak lain menganggap, penggunaan kata "bapak" adalah warisan budaya feodalisme.
Debat di milis yang terakhir (yaitu milis pantau-komunitas@yahoogroups.com) kemudian menjadi menarik, karena dikaitkan dengan politik dan budaya. Salah satu anggota milis (Nanang Supriatna) menyebutkan, bahwa di jawa ada istilah yang disebut tumpas kelor, yaitu menumpas satu kelompok hingga ke akar-akarnya, termasuk ke bahasa yang digunakannya. Sebagai contoh ditunjukkan bahwa bahasa jawa dan sunda pada awalnya tidak mengenal tingkatan, baru pada masa kerajaan mataram dikenalkan bahasa yang berbeda untuk kalangan keraton dan kalangan rakyat biasa.
Debat tersebut jugalah membuat saya mengetahui asal muasal kata anda. Farid gaban, dengan mengutip buku "Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi" karya Rosihan Anwar, 1980, menyebutkan bahwa penggunaan kata anda untuk kata ganti kedua awalnya diciptakan oleh seorang kapten AURI bernama Sabirin. Kata tersebut berasal dari bahasa Kawi 'ra', kemudian menjadi 'da', dan bermakna 'yang mulia'. Kata 'anda' diperkenalkan ke publik pada tanggal 28 Februari 1957 oleh harian Pedoman. Sutan Takdir Alisyahbana kemudian mendukung penggunaan kata tersebut dalam tulisan di Pedoman Minggu pada tanggal 14 April 1957. Di tulisan tersebut, ia menyatakan bahwa makna hakiki kata anda ialah `pendemokrasian dalam kata ganti' dan mempopulerkan kata anda berarti juga membantu tumbuhnya masyarakat Indonesia yang demokratis.
Namun, apakah ini berarti memakai kata 'bapak' merupakan budaya feodalisme? Ketika berkenalan dengan kawan baru, saya sering mengingatkan jika saya dipanggil dengan sebutan 'pak'. Maklum, masih kecil kok sudah dipanggil 'pak' :). Ada lagi kawan yang mendefinisikan, seseorang yang sudah menikah, layak disebut 'pak', sementara yang tidak, cukup dengan nama saja. Di sini, penggunaan kata bapak dikaitkan dengan usia dan status menikah seseorang. (bagi beberapa orang, definisi ini tentu dianggap racist :)).
Apa pun alasannya, menurut saya, perlu dibedakan antara pengunaannya karena kesepakatan dan rasa bahasa dalam satu komunitas dengan pemaksaan penggunaan kata 'bapak' karena budaya feodalisme. Jika seseorang terpaksa menggunakan kata 'bapak' dalam menyapa seseorang yang mempunyai posisi lebih tinggi, inilah budaya feodal yang harus ditumpas.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home