Saturday, September 03, 2005

antara gombal dan bullshit

Orang Indonesia memang terkenal ramah sejak dulu. Bayangkan, untuk istilah yang mengandung arti ber-omong kosong, kita menggunakan kata gombal, yang berarti kain usang yang digunakan untuk membersihkan debu. Sementara, padanan kata yang serupa dalam bahasa Inggris adalah bullshit, alias tahi sapi.

Kata tukang gombal sering dipakai untuk mereka yang sering bikin janji-janji surga. Biasanya, mereka yang sedang pacaran, sarat dipenuhi dengan aroma gombalisme. Namanya sebuah janji, umumnya mengacu ke peristiwa di masa depan, yang belum tentu bisa dipastikan kebenarannya. Di sini, gombal jelas berbeda dengan ngibul atau bohong, karena tukang gombal memang tidak atau belum berbohong, meski umumnya dia akan berubah menjadi tukang kibul, jika ternyata di masa depan janjinya terbukti palsu. Hal yang pasti dilakukan oleh para tukang gombal adalah mereka tidak bersungguh-sungguh berusaha untuk memenuhi janjinya.

Memang, deskripsi gombal di atas sedikit berbeda dengan istilah bullshit. Kata bullshit, umumnya tidak dikaitkan dengan janji, namun mengandung unsur yang sama, yaitu pernyataan mengawang yang diucapkan oleh mereka yang tidak peduli atau tidak bersungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran dari apa-apa yang diucapkannya. Bullshit, menurut Harry G. Frankfurt, seorang profesor di bidang filosofi dari Princeton, adalah tindakan yang lebih buruk dibandingkan dengan berbohong. Mengapa? Bullshit adalah hasil dari sikap yang tidak peduli terhadap kebenaran. Orang yang berbohong masih memiliki kesadaran akan mana yang fakta yang benar dan mana yang salah, sementara mereka yang ber-omong kosong, sama sekali tidak berusaha dan tidak peduli akan kebenaran.

Fenomena gombal dan bullshit terjadi di mana-mana, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, dan menurut Frankfurt, ini disebabkan karena orang memang cenderung untuk berbicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak diketahuinya. Motivasinya bisa macam2, misalnya karena ingin pamer, atau justru karena merasa rendah diri sehingga obral ucapan supaya merasa diri hebat. Terlebih lagi, dalam era Internet saat ini, gombal dan bullshit diproduksi secara massal. Di milis, di koran, blog, radio, televisi, telpon dan berbagai media lainnya. Kalo saya bilang, tingkat produksinya mencapai 100 bullshit per detik, jelas ini termasuk bullshit juga, karena memang tidak ada data pendukungnya.

Ada entri menarik di wikipedia tentang bullshit. Di sana disebutkan asal-muasal kata bullshit, yang katanya dari kata perancis 'boul', dan ada juga yang bilang dari kata cina. Tapi ada lagi yang menurut saya cukup menarik, yaitu situasi kapan bullshit ini sering digunakan. Menurut artikel tersebut, bullshit digunakan saat nilai kebenaran dianggap tidak penting jika dibandingkan respons penerima yang diharapkan saat peristiwa bullshit itu terjadi. Ini bisa diambil contoh misalnya dalam kasus orang pacaran di atas. Si tukang gombal dan yang digombali (ahli gombal? *) memang sama2 mau. Yang satu lagi merayu, yang satunya lagi juga ingin digombalin. Dalam dunia bisnis, bullshit sering dipakai untuk menarik minat konsumen. Misalnya saja bisnis seminar NLP atau positive thinking yang sekarang marak di Indonesia. Mereka umumnya mengandalkan klaim-klaim yang tidak bisa dibuktikan nilai kebenarannya. Dan soal nilai kebenaran ini bukan masalah bagi sang penyelenggara, sepanjang ada konsumen yang siap membayar mahal untuk mengikuti seminar tersebut.

Dalam dunia politik, bullshit digunakan misalnya untuk mendapatkan popularitas. Sekarang coba kita lihat kalimat seperti ini: "I don't care about my popularity", yang justru digunakan untuk mendapatkan popularitas. Belakangan, terlihat banyak sikapnya yang ragu-ragu akibat takut tidak populer. Tapi.. nanti dulu. Jika seseorang bilang bahwa dia tidak perduli dengan popularitas, sebenarnya hanya dia sendiri yang tahu apakah dia berkata benar atau tidak. Ini jelas bukan gombal atau pun bullshit. Karena gombal dan bullshit sangat terkait dengan sikap ketidak pedulian akan kebenaran atau pelaksanaan janji. Di kasus ini, kalo ternyata dia sebenarnya peduli sama popularitasnya sendiri, maka jelas, tidak lain dan tidak bukan, dia termasuk golongan tukang kibul.

catatan:
*) ahli gombal: orang yang menerima gombal. Diambil dari pola ahli waris dan pewaris.